What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag soundtrack
The moment I wake up Before I put on my makeup I say a little prayer for you While combing my hair, now, And wondering what dress to wear, now, I say a little prayer for you
Forever, forever, you'll stay in my heart and I will love you Forever, forever, we never will part Oh, how I'll love you Together, together, that's how it must be To live without you Would only be heartbreak for me.
I run for the bus, dear, While riding I think of us, dear, I say a little prayer for you. At work I just take time And all through my coffee break-time, I say a little prayer for you.
Forever, forever, you'll stay in my heart and I will love you Forever, forever we never will part Oh, how I'll love you Together, together, that's how it must be To live without you Would only be heartbreak for me.
My darling believe me, For me there is no one But you.
The Movie: A soundtrack from "My Best Friend's Wedding". What's different about this movie from most romantic comedy is that the heroine and hero did not ended up together.
The Song: Sang by the lady of soul Aretha Franklin
The Real Life: A little prayer for a best friend.. ...to be brave ...to be tolerance ...to endure ...to have faith ...to be acceptance ...and to still have passion and believes in your dreams There are those who love you. Good luck.
..."Yes, it's about time !" "Maksud loe?" tanya dia sambil menghembuskan lagi asap rokok ke udara. Mataku menonton gumpalan asap melayang - layang dan kemudian tersedot exhaust fan yang terpasang persis di atas meja kami. "Suck it hard, baby" khayalanku kembali bermain sendiri sambil melirik kearah bar dimana tadi aku bertemu Nadine. "Apaan yang about time bro, udah pantesnya gue suntuk maksud loe ?" katanya lagi sambil menutup laptop Sony Vaio 12 Inch nya dan membungkusnya dengan tas kecil yang terbuat dari semacam bahan untuk diving wetsuit berwarna hitam. "Kondom laptop nya keren juga" aku berkomentar dalam hati. "Bukan, lama banget untuk nyampe ke meja ini dari pintu. Rame banget sih malem ini ?" jawabku setengah bertanya. "Perseverance bro, perseverance....hidup ini butuh ketekunan dan kesabaran" jawabnya dengan gayanya yang khas seakan sedang membeberkan rahasia hidup yang luar biasa penting . "Buset dah, dalem pak....beneran suntuk abis loe kayanya". Dia tidak menjawab dan kembali menghembuskan asap rokoknya ke udara. Mataku kembali menonton adegan ulangan felatio di udara. Bau cengkeh dari rokok kretek kegemarannya itu menghapus sisa-sisa akhir aroma jeruk nipis dan oyster yang masih bertengger di alam bawah sadar pikiranku. "This song can really bring the mood to the lowest level of any soul" katanya lagi sambil menghabiskan sisa bir di gelasnya. ..And so it is ..The shorter story ..No Love, no glory ..No hero in her sky
Duduk di hadapannya aku dapat menangkap sedikit cuplikan lirik dari lagu yang keluar dari speaker Bose yang terpasang di setiap sudut tempat ini. "Lagu nya sapa nih, bros ?" aku bertanya kepadanya. "Ngga tau" jawabnya singkat. Dia berdiri melepas jaket kulit model bikers nya dan kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil waitress yang sedang lewat dekat meja kami. "Bir dua lagi ya May" katanya kepada si waitress yang memakai baju hem putih longgar dan apron hitam panjang. Aku diam saja membiarkan dia memesan bir untuk kita berdua. Sebuah ritual lama yang selalu dia lakukan apabila kita sedang berada di bar. "Pakabs Dante....lama ngga keliatan" sapa Mayar si waitress sambil mencatat pesanan kami berdua. "Baik, eh ini lagu siapa sih May?" tanyaku. "The Blower's Daughter ...lagunya Damien Rice dari film Closer. Sebentar ya aku ambilin bir nya" katanya sambil beranjak dari meja. "Blower's daughter.....apa tuh artinya?" kata Pally. "Ngga tau...but I used to know an ambassador's daughter once. Ga sama ya?" jawabku sambil terkekeh. "hehehe, that's old story men. Eh ngobrol ama sapa tadi loe di bar?" "Sama Nadine, belom nyapa dia kesini?" jawabku "Tuh lagi jalan kesini doi" "Hey gorgeous" suara halus dibelakangku terdengar menyapa temanku. "Nadine, what the fuck is a blower's daughter? blow job atau apa?" temanku membalas sapaan Nadine. "Hah, blow who's daughter? segitu kangennya loe ama gue, baby?" "Kangen kangen banget sih ga tapi kalo blom ada bini ama anak empat I wouldn't mind you drag me to the toilet now and discuss about who's blowing who" "Ah Dan, you're pally is still the outspoken muthafukka as always" Nadine tertawa sambil bersandar di bahuku. "Outspoken and honest as always, Nad" jawab temanku. "Ngga nyambung banget dialognya dua orang ini" aku bergumam dalam hati sambil kembali melirik exhaust fan di atasku lalu beralih ke Mayar yang datang membawa dua gelas bir.
"Empat ?, bukannya loe punya tiga brandals laki?" tanya Nadine. "Baru dapet cewe tiga bulan yang lalu" "Wow, selamat selamat. Seneng banget kalian pasti akhirnya dapet baby girl" Nadine beranjak dari bahuku dan mencium temanku. "Thank's Nad, she added colors to my life now. I see plenty of colours thru my children eyes, bapak nya sudah meluntur color nya" jawab temanku. "Ngga lah, you're still as savage as I first knew you baby. Not to mention the most honest guy I ever knew" kata Nadine sambil memeluk temanku. "Melankolis abis, plis de" aku nyeletuk sambil meneguk bir dinginku. "Savage quality is meluntur bro, the sign of old age and mind" temanku menjawab sambil nyengir. "Oke guys, got to get back to my circle now, salam buat Zeska and the kids ya, baby" kata Nadine. "Bye Nad" koor kita berdua membalas pamitan Nadine.
"So, apalagi yg baru lately in your life Pally ?" tanya temanku. "Ga banyak, still obsess about myself.The same emotional turmoil and confusion. same old thing" "Tell me something I dont know..." "I dont think I can, Pally" jawabku "Thats my Pal O Mino, the same emotional turmoil and confusion forever" "Siyap!. story of my life. The only different is now I have a caring and loving wife who put up with all my shits and I'm grateful for that" jawabku. "Bener boss, honesty, perseverance dan gratefullness. At the end of the day life is all about them" kata si Pally sambil matanya mencari Mayar lagi. Setelah sukses memanggil Mayar untuk dua gelas bir lagi si Pally kembali bertanya. "Speaking about ambassador's daughter, do you know why she broke up with me that time?" "Ga tau, kenapa emang" "I DONT FUCKING KNOW THATS WHY I'M ASKING YOU BECAUSE I THOUGHT YOU MIGHT KNOW SOMETHING I DONT..HA.. HA.. HA" si Pally berteriak sambil tertawa. "Lucu abiz nih..sumpe" jawabku sambil tertawa keras juga. "Gue ketemu si Hari di airport KL minggu lalu, terus dia nanya kenapa gue ga jadi sama si putri dubes itu" lanjut si Pally. "Tuh orang ga punya hal yang lebih penting lagi di kepalanya sampe nanya soal kaya gitu?" kataku sambil menghabiskan sisa-sisa tertawaku. "secara stuck in the past, gitu lho" lanjutku lagi. "The only good thing about the past is only one thing and one thing only, it's ours" jawab si Pally. "Jadi loe juga sampe sekarang ga tau alasen sebenernya kenapa waktu itu putus?" tanyaku. "Nope" jawabnya singkat. "I guess being honest to our true feelings is not so easy" aku bergumam sendiri. "Maksudnya?" tanya si Pally "Ya kalo sampe ga tau alesannya kenapa then someone is not being honest about something, gitu lho" "Maybe not" kata si Pally "...and the shitty shit that shit the shit is that this damn song for sure does not help my state of mood....Mayar !" lanjutnya sambil memanggil Mayar.
Aku kembali melirik exhaust fan diatas. Honesty, Perseverance, and Gratefulness. Being honest to ourselves and our feelings needs perseverance and it could lead to being grateful of what we have now. Without the last two I probably already kill myself....mataku kembali menonton adegan favoritku antara si asap dan si kipas exhaust sambil merenungkan apa yang baru saja terjadi. "Mayar.....bisa pasangin Brother to Brother nya Gino Vanelli ngga?" tanyaku sambil mengambil gelas bir ketiga dari tangannya.
..Brother to brother ..Now don't let the devil get you down ..Oh 'cause it's bread and it's butter ..That makes this whole damn world ..Round and round
"Cakep mister lagunya.....ngomong-ngomong gimana ceritanya nih soal We're Brothers Movement dengan de gandaz?" si Pally berkata sambil menyentuhkah gelas birnya ke gelasku.
...Batu ungu Aquatis dan aroma jeruk nipis dari tiram itu membuatku menatap mahluk mentah yang licin dan basah dalam tiram itu seakan berharap menemukan sebutir mutiara hitam yang sedang bersembunyi. "ngga deh" aku menjawab sambil melihat wajah si pemilik tangan halus. "it's an aphrodisiac, you know" jawabnya sambil tetap menjulurkan mahluk mentah itu di hadapanku. Mendengar kata aphrodisiac secara otomatis oyster licin dan basah itu berubah menjadi sekilas ilustrasi erotis dari sebuah titik sensual wanita. Aku tersenyum sendiri dengan kilasan nakal tersebut dan sekaligus menjadikan itu sebagai senyuman menolak halus tawaran aphrodisiac yang aku rasa bermakna ganda dari Nadine, si pemilik batu Aquatis dan seorang invesment banker handal dari sebuah rumah trading yang berbasis di Hong Kong. "Kapan dateng Nad?" tanyaku sambil memegang tangan kiri nya yang memegang segelas white wine dan mengecup pipi nya. "Udah dari dua hari yang lalu" jawabnya sambil tetap memutar-mutar oyster itu di depanku hidungku. "Stop that, you corporate raider" kataku sambil mengelak tiram yang melayang-layang di udara. "Perusahaan sapa yang jadi korban kali ini ?" tanyaku lagi. "Adalah, BUMN cupu....tadi pagi due dilligence nya" katanya sambil menenggak white wine nya. "Here, swallow it's good for you" katanya lagi menyodorkan oyster itu lagi. "I don't swallow but you do, don't you?" aku berbisik di telinganya sambil mengecup pipinya dan berjalan sambil melambaikan tanganku. "Fuck you, baby" katanya sambil meniupkan ciuman dari jauh.
Aku menoleh kebelakang dan melihat dia membalas lambaian tanganku dan menghilang kembali kedalam lingkaran teman-temannya. Aku tersenyum dan ingatanku melayang ke hari-hari dimana kita berdua sedang mengambil program S2 dibidang International Business. Otaknya yang cemerlang banyak membantuku menyelesaikan beberapa kasus studi. Hubungan pertemanan kita cukup dekat walaupun tidak pernah sampai ada ikatan emosional yang mendalam selain beberapa kali dia menghabiskan malam di tempatku sambil bercerita mengenai pembuktian diri di dunia kerja yang didominasi oleh laki-laki. "Men are dogs" katanya. Snoop doggy dog, tell me something I don't know, darling aku sering bilang ke dia.
Kembali aku melanjutkan perjalanan menuju meja pojok dimana temanku sudah menunggu. Kepadatan di sekitar ujung meja bar agak menipis dan memungkinkan aku untuk mempercepat langkahku. Perjalananku dari pintu masuk tadi ternyata memerlukan ketekunan yang luar biasa untuk mencapai ke meja pojok itu. Pada akhirnya sampai juga aku di meja pojok itu dan melihat sedikit kepala teman ku menyembul dari balik laptop yang terbuka. "Wassup Pally" sapa ku. "Pally" panggilan yang sudah belasan tahun kita berdua pakai untuk menyapa satu sama lain. "Wassupppppp.....suntuk abis jreng" jawabnya sambil meniup asap Jie Sam Soe nya ke monitor laptop.....(bersambung)
Aku mengintip kedalam lewat kaca pintu kayu itu dari luar, setengah basah karena gerimis hujan yang tiba-tiba saja turun beberapa saat yang lalu. Dari antara tempelan berbagai macam kartu kredit dan tanda "OPEN" yang tergantung di pintu kaca itu aku melihat dia sudah duduk di meja pojok dengan laptop terbuka dan gelas bir yang masih setengah penuh.
"Tumben udah dateng duluan" ujarku dalam hati dan kubuka pintu kayu tua itu dengan menarik setengah paksa serta masuk kedalam membawa udara dingin bulan November dari luar bersama ku. Aku berjalan melewati meja-meja yang sudah penuh terisi oleh pelanggan resto & bar ini yang sebagian besar adalah orang-orang yang itu-itu juga sambil menyapa beberapa dari mereka. Sapaan ku lebih merupakan ekspresi sopan santun karena sebetulnya aku lebih kenal wajah mereka daripada nama. Mereka membalas menyapa tanpa menyebut namaku . Aku yakin merekapun hanya mengenal sosok ku yang sering terlihat duduk di meja pojok itu atau di meja bar yang terbuat dari kayu eboni yang permukaannya sudah sangat mengkilap dari gosokan lap bartender selama bertahun-tahun.
Barangkali hanya orang-orang tertentu saja yang kebanyakan dikenal dengan nama oleh para pengunjung tempat ini yaitu para pelayan dan bartender yang sebagian besar menjadi pekerja paruh waktu dan terdiri dari pelajar sebuah universitas yang terletak tidak jauh dari tempat ini. Diluar mereka aku rasa mayoritas pelanggan tempat ini terdiri dari wajah-wajah "familiar" tanpa nama. Sambil terus bergerak menuju meja pojok untuk menemui temanku itu aku berpikir mungkin itu sebabnya aku menyukai tempat ini karena merasa dapat menjadi "invisible" namun pada saat yang sama masih merasa "dirumah" dengan teguran ramah dari para pekerja paruh waktu itu. "Kamu sangat tidak menarik kalo sedang seperti itu" pernah seorang teman bilang itu kepadaku mengenai ketrampilan sekaligus hobi ku untuk menjadi "invisible". Tapi tempat ini serasa menawarkan secara alami suasana untuk bisa menjaga jarak atau menghilangtanpa merasa seperti terpaksa harus melangkah keluar dari lingkaran realita sekitar untuk mengamati kehidupan nyata dari luar kedalam.
Mendekati daerah bar ruang gerak ku semakin sempit dan dengan sedikit susah payah aku ber navigasi sambil menenteng tas ransel laptop ku melewati orang-orang yang berdiri di sepanjang bar eboni itu sambil memegang gelas minuman yang kebanyakan bir hitam sesuai dengan karateristik tempat ini sebagai sebuah Irish Bar. Mendekati ujung meja bar aku tiba-tiba berhadapan dengan sebuah tangan halus yang menyodorkan kerang oyster tepat didepan hidungku. "Hey stranger...mau ngga?" menyusul suara halus si pemilik tangan yang wajahnya belum terlihat saat itu. Hidungku mencium aroma jeruk nipis yang telah disemprot kedalam rumah oyster itu dan tatapan mataku berpindah-pindah secara bergantian dari rumah kerang ke cincin batu alam Aquatis besar berwarna ungu yang melingkar di jari tengahnya dan terakit dalam cincin dengan ukiran perak Bali yang indah.....(bersambung).
DEMAJORS IN ASSOCIATION WITH GOWA MUSIC PROUDLY PRESENT A NEW ARTIST 'PARKDRIVE'
DON'T FORGET TO CHECK OUT THEIR SELF-TITLED DEBUT ALBUM AT YOUR NEAREST LOCAL STORES !!
ALSO PLEASE SET YOUR TIME FOR PARKDRIVE RELEASE PARTY AT MANNA HOUSE TONITE !.
SEKILAS TENTANG PARKDRIVE :
PARKDRIVE terdiri dari Juno Adhi,Rayendra Sunito dan Mikuni Gani yang merupakan lulusan dari Berklee College of Music, Boston. Untuk bulan Agustus ini PARKDRIVE terpilih sebagai exclusive artist MTV dan single "sekedar cerita" menempati posisi no 1 di program NuBuzz Prambors. PARKDRIVE juga mendapat kesempatan untuk dapat bekerja sama dengan Glenn Fredly untuk memproduksi satu track dalam album original soundtrack " Cinta Silver " yang berjudul " Selalu Tersenyum "