Body Ink Studio itu yang tertulis di papan nama
sebuah studio sekaligus toko pakaian yang berada di daerah bohemian dengan
banyak cafe, gallery dan distro bertebaran. Bobo neighborhood seorang kawan
pernah berujar. "Apa tuh bobo?" pernah aku tanya dia. "bohemian borju" jawabnya sambil terkekeh. Aku tertawa dan membayangkan mereka yang
memilih jalur gaya hidup dan penampilan bohemian lengkap dengan segala vintage
atributnya meskipun banyak dari mereka berasal dari latar belakang ekonomi dan
status sosial yang mapan. De la vie de boheme, bukankah seharusnya merupakan
kehidupan dengan kebebasan berseni dan hanya mengejar kesempurnaan dalam sebuah
musik, warna atau kata-kata dan bukan mengejar kesempurnaan materi? aku mencoba
menganalisa arti kata bohemia. Les bohemes bourgoiesie, sebuah paradoks yang
kupikir lucu.
Aku melambaikan tangan ke pemilik sekaligus
seniman tattoo yang baru saja tiba untuk membuka studionya itu. Mukanya yang
sudah penuh dengan segala macam bentuk dan ukuran tindikan logam mulai dari perak sampai titanium itu
tersenyum dan membuat seakan semua logam yang menempel di wajahnya ikut
bergerak. Dia melambaikan tangannya yang terbungkus penuh gambar tattoo
kearahku. Aku teruskan langkah pagi itu menuju Town House bergaya Mediterranean
di samping tempat tattoo itu. Kubuka pintu gerbang besi berwarna hijau untuk
memasuki halaman dalam yang membentuk cul-de-sac seperti La Piazza kecil dengan
tanaman rambat yang memenuhi tembok luar sampai ke lantai dua gedung............................................
............ Kutekan bel pintu sambil merasakan kehangatan caffe
latte, cream cheese dan bagel sekaligus semerbak aroma Lily segar lewat kantong kertas coklat
yang kupegang. Tak lama pintu apartemen terbuka dan senyum khasnya yang
ramah muncul di depanku.
“Pagi”,
sapanya. “Lho, kok tumben nganter sendiri? si Chang kemana?” lanjutnya sambil
memberi tanda menyuruhku masuk.
”........Chang
sakit ngga bisa masuk hari ini”, aku menjelaskan keberadaan salah satu
pegawaiku yang biasa mengantar pesanan delivery.
“Waa, sori ya
musti nganter sendiri”, katanya..........
Kuambil bunga Lily dari kantong kertas dan sambil menyambar botol Absolut
Vodka kosong yang terletak di atas meja itu aku berjalan menuju dapurnya untuk
mengisi botol yang telah berganti fungsi menjadi vas bunga khusus untuk pesanan
Lily-nya itu dengan air.keran. Sepintas tatapanku terhenti pada seuntai rosario mutiara hitam yang tergantung di lampu meja kerjanya................ ....................
"Terima kasih ya”, katanya lagi sambil mengambil uang
kembalian.
."........ you have a good day, ok? mampir-mampir dong”, jawabku sambil
berjalan keluar pintu.
“Sip, you too Dan. Bye bye”, katanya
sambil menutup pintu.
............................Aku menyeberang jalan
dan mengambil arah yang berlawanan dari tokoku untuk mengunjungi bengkel sepeda
motor langgananku. Hari masih terlalu pagi dan belum semua toko dan
restoran di jalan itu yang buka. Melewati Shonagon, sebuah fusion sushi
restoran aku melihat poster besar bergambar seni Jepang Ukiyo-e dari pelukis
Kiyonaga berjudul Girl under a Willow
menempel di jendela kaca restoran yang masih tutup itu....................
.............................Aku melihat bayangan diriku di
jendela kaca restoran. Memakai kaos abu-abu muda bertuliskan salah satu slogan
Adidas ”impossible is nothing”, celana korduroy belel dengan warna yang mirip
dan sepatu Timberland coklat lusuh. Sebuah gambaran yang jauh dari sosok
eksekutif dengan setelan jas gelap
Armani yang menutupi kontras warna hem putih dan dasi sutera dengan warna yang
seakan ingin beradu gelap dengan setelan jas....................
Kulihat rekleksi diriku dikaca lagi, kali ini
seperti layar filem dengan adegan yang berlompat – lompat antara lantai bursa
yang hiruk pikuk oleh suara tawar menawar saham bergantian dengan bayangan
lapisan kimono, muka berbedak putih tebal seorang Geisha diiringi suara suling
Shakuhachi. Sebuah rantai fiksi imaginasi yang seakan pernah menjadi rangkaian
sebuah perjalanan panjang yang merupakan bagian dari seni mencari kebahagian. Aku
melanjutkan langkahku dan sayup-sayup bunyi suling Shakuhachi berganti menjadi
raungan khas knalpot motor Harley Davidson bersamaan dengan bertambah dekatnya
jarak menuju bengkel tujuanku........................
antara cuplikan, kompilasi, terusan dari Mutiara Hitam, Paradoks Dalam Botol dan Girl Under A Willow, an unfinished tale................
Image reference: The Black Pearl Inc (Jewelry Catalogue)