ParkBench, Come Sit With Me

Blog EntrySisi Kiri Bangku TamanFeb 8, '08 1:00 PM
for everyone
Mataku menatap sebuah sudut sepi di ujung sana. Sebuah ruang hampa yang kini hanya bertepikan sandaran tangan kayu. Bangku taman dari kayu jati tua dengan ruang yang hanya cukup untuk dua orang itu terasa seperti lautan lepas tanpa daratan dilihat dari dimana aku duduk di sisi kanan.

Termangu aku duduk menatap berbagai guratan-guratan panjang maupun pendek yang ada di sandaran kayu dan dudukan bangku itu. Setiap guratan garis seakan bercerita kembali kepadaku kisah-kisah lama yang muncul dalam bayangan layar bergerak di kepalaku.

Kembali mataku menatap sudut kiri bangku taman itu. Sisa hujan semalam masih meninggalkan bekas noda basah dengan warna yang lebih gelap dibanding bagian lain. Setetes air hujan bahkan masih tergenang di sebuah lubang kecil disandaran tangan kayu. Permukaannya yang bening dan tenang menikmati keberadaannya di ruang kosong tak berpenghuni seakan seperti bola mata yang menatapku kembali dengan riang. Aku menatap kembali dan mencoba berdialog dengan tetes air hujan yang riang itu. Terpikir olehku mungkin dia senang nasibnya lebih baik dari para temannya yang jatuh disisi kanan bangku. Tetes-tetes air hujan yang kini telah lenyap entah terlempar atau terserap kulit atau pakaianku selama aku sering duduk terdiam disudut itu.

Mataku berbisik kepada si tetes air hujan dan meminta maaf telah melenyapkan teman-temannya. Sering terpikir mungkin lebih baik aku tidak duduk lagi disudutku dan pergi meninggalkan bangku taman itu. Mata basah riang itu seakan tersenyum dan mengajak ku untuk tetap menemaninya.

"ini adalah tempatmu dan sudut itu adalah dirimu. Jangan takut, teman-temanku akan kembali lagi di hari hujan yang berikutnya" katanya

"aku merasa ada yang hilang dan ini bukan tempatku lagi" bisik ku

"sisi itu sudah menjadi tempatmu dan guratan garis cerita yang ada disini tidak akan pernah hilang. bangku ini adalah rumah bagimu" katanya lagi

"aku sebelum ini tidak pernah memperhatikanmu" aku meminta maaf kepada teman baruku itu

"senyum mu setiap kali hujan turun adalah perhatianmu kepadaku dan teman-temanku" katanya tetap riang

Aku tersenyum melihat kepolosan dan ketulusan setetes air hujan itu.

"duduklah disisi ini. jangan takut kehilangan diriku karena bagian dari ku selalu akan kembali ke bangku ini setiap kali hujan" katanya lagi

Aku mengangguk dan tersenyum mendengar janjinya yang mencoba menenangkan hatiku.

"Aku akan coba pada waktunya nanti untuk duduk disisi mu" jawabku berjanji

"Jangan lupa untuk membawa lemon cheesecake kesukaan mu. Aku suka aroma jeruknya" dia mengingatkanku atas salah satu ritual di bangku taman itu

Aku menganguk lagi dan seakan bisa merasakan sisa rasa jeruk di lidahku dari entah kapan saat terakhir kali aku memakan sepotong lemon cheesecake.




Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help