Coklat warna bangku kayu
Kusam dimakan embun pagi
Lekukan besi memagari pinggir bangku
Dua sisi membentang jarak tak berpenghuni
Peluh letih beban seorang babu
Terhimpit segunung baju tak tercuci
Rela dia terpojok demi mimpi lugu
Berharap satu waktu akan bersemi
Sisi kiri bangku taman
Kini kosong sepi tak berpenghuni
Hilangnya ritual bersama seorang teman
Akhir dari hangat pagi dimusim semi
Kusodorkan padanya tanganku untuk disentuh
Pandangan mata letih dan mataku beraduÂ
Kubelai rambut tergurai menutup muka berpeluh
Sambil berbisik mimpinya adalah kita menjadi satu
Duduk terdiam dengan tatapan kosong kedepan
Rambut halus tergurai kini berganti seikat lidi kaku
Terbangun dari tidur siangku dibangku taman
Menyapu mimpi lugu seorang tukang sapu